EMOSI MARAH DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAMI

Editor : Aulia Sukma Febrianti, Realita Fitri, Shelli Diani, Yazid Hajrian Dinata

               Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung

 

 

republika.co.id

 

    Marah adalah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukan tidak benar. Kemarahan membantu kita memahami bahwa kita merasa dirugikan dan memberi dorongan untuk bertindak atau memperbaiki keadaan. Kemarahan dapat berupa amarah, rasa sakit hati, sedih, atau merasa terancam, cemas atau takut. Berkaitan dengan kadar adrenalin yang meningkatkan gejala fisik. Keinginan kuat untuk melakukan sesuatu untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi seseorang.

    Oleh karena itu, seseorang perlu terlebih dahulu mengenali hal-hal yang dapat menyebabkan kemarahan. Secara garis besar sebab yang menimbulkan marah itu terdiri dari dua faktor.

        1. Faktor Fisik           

  • Kelelahan yang berlebihan, misalnya orang yang terlalu lelah karena kerja keras, akan lebih mudah marah dan mudah tersinggung.
  • Zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah. Misalnya jika otak kurang mendapat zat asam, maka orang tersebut akan mudah marah.
  • Hormon kelamin pun dapat mempengaruhi kemarahan seseorang. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan sendiri pada sebagian wanita yang sedang menstruasi, rasa marah merupakan ciri khasnya yang utama.

 2. Faktor Psikis

  • Faktor psikis yang menimbulkan marah adalah erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. terutama sekali menyangkut apa yang disebut “Self Concept yang salah” yaitu anggapan seseorang terhadap dirinya yang salah. Self concept yang salah manghasilkan pribadi yang tidak seimbang.  Berikut ini merupakan beberapa sebab yg memunculkan marah:
  • Ujub (Rasa Bangga Terhadap Diri Sendiri)
  • Rasa bangga terhadap pendapat, status sosial, nasab (keturunan), dan harta merupakan salah satu pangkal permusuhan yang dapat membangkitkan kemarahan jika tidak diikat ataupun diarahkan dengan nilai-nilai Islam .
  • Perdebatan/Perselisihan
  • Bencana perdebatan sangatlah banyak. Diantaranya adalah munculnya rasa marah. Oleh sebab itu, islam melarang perselisihan.

 

Hal-hal yang memperparah marah

- Konsumsi alkohol atau obat-obatan

- Faktor yang mempengaruhi mood

- Faktor yang mempengaruhi kondisi umum

- Frustasi berulang

- Rasa putus asa

- Hal-hal yang membuat hidup terasa tidak pasti, penuh risiko, atau menakutkan

- Berulangnya situasi yang di masa lalu membuat anda marah

- Provokasi berulang oleh orang lain atau sesuatu

- Hilang empati terhadap orang lain 

 

Bahaya Marah

- Dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain

- Dapat mempengaruhi kemampuan atau keinginan untuk sukses

- Dapat merusak atau merenggangkan hubungan
 

Cara Tepat Melampiaskan Amarah

- Ekspresikan dengan tenang

- Bersikap hormat dan ungkapkan hal secara spesifik

- Kritik perilakunya, bukan orangnya

- Jangan bertanya dengan menuduh

- Hindari kata-kata ‘tidak pernah’ atau ‘selalu’ atau ‘tidak adil’

- Jangan mendikte seseorang apa yang harus dilakukan atau diucapkan

- Fokus untuk mencari solusi bukan pada rasa kesal

- Ajukan permintaan yang dapat menjadi solusi permasalahan atau dilakukan ketika semua pihak sudah dalam kondisi tenang

- Selipkan candaan

- Jangan menyimpan dendam

- Perbanyak aktivitas yang memicu relaksasi pikiran

- Konsultasi ke klinik jiwa.

 

    Dalam pendekatan religius marah bukannya dilarang melainkan dapat dilakukan dengan alasan tertentu, misalnya Rasulullah SAW, bukannya tidak pernah marah. Beliau akan sangat marah khususnya jika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah dijalankan oleh umatnya, dan  tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya. Marah merupakan sifat bawaan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk membedakan dengan malakikat dan setan. Dimana Malaikat tidak memiliki nafsu amarah, setan bergelimang dengan marah dan manusia diantaranya, karena Allah memberikan akal dan nafsu. Sehingga marah merupakan tabiat yang tidak akan hilang namun mampu dikendalikan atau dikuasai agar tidak menimbulkan dampak negatif  yang membahayakan bagi dirinya dan orang lain serta lingkungannya.

    Dalam pendekatan religius ada empat pemicu emosi yaitu: kemarahan, syahwat, kecemasan dan kenginan atau nafsu. Empat hal tersebut merupakan sifat dasar yang dimiliki manusia, sehingga jika terhalang atau tidak dapat dipenuhi dapat meningkatkan gejolak emosi sehingga mendorong seseorang untuk mencari keseimbangan dalam memenuhi tuntutan tersebut. Allah memberikan manusia dua kekuatan yang saling tarik menarik, yakni fujur dan taqwa. Fujr adalah keuatan yang mengajak manusia untuk memuaskan keinginan nafsunya sedangkan taqwa adalah mengarahkan keinginan manusia kearah positif melalui pengendalian dan pengontrolan nafsu untuk mencapai tingkat ketaqwaan.

    Rambu-rambu agama telah mengajarkan kita agar mengendalikan amarah dengan cara yang telah dituntunkan oleh wahyu dan tuntunan Rosululloh. Pengendalian marah merupakan suatu cara dalam melakukan manajemen qalbu, yakni mengarahkan dan mengontrol nafsu yang merusak diri dan membuat kehancuran. Sifat  emosional  merupakan nafsu amarah yang mengarah kepada kejahatan (Q.S. Yusuf, 12.53), sedangkan nafsu Lauwammah merupakan nafsu yang menjadikan diri kita menyesal setelahnya/menimbulkan penyesalan diri (Q.S.Al Qiyamah, 75:2).

    Jika kita mengikuti beberapa ajaran sunnah untuk mengendalikan amarah, Rasulullah  SAW bersabda: Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi mereka  mampu menahan nafsu amarahnya. Marah sendiri dalam bahasa Arab yaitu Ghadhab (غضب). Kata Ghadhab غضب – یغضب - ( berasal dari akar kata ghadhiba-yaghdhabu-ghadhaban berarti marah. Marah berarti gusar, jengkel, muak dan sangat tidak) غضبا senang karena diri diperlakukan tidak sepantasnya. Maka marah secara terminologi berarti perubahan internal atau emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang ada di dalam hati.

    Kemarahan merupakan suatu gejolak kehidupan. Jika seorang naik darah atau berbuat kekeliruan, pekerjaan dan kegiatan mungkin terganggu, suasana kerja yang menyebalkan. Amarah senantiasa merusak. Sungguh sangat aneh yang mudah takut dengan arus yang datang, tetapi tidak berusaha menahan marah. Penyakit kanker telah menyita perhatian dunia dan menghabiskan banyak harta. Sementara marah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah dan konytraksi yang justru lebih sering mengantarkan kepada kematian dari pada kanker, malah kurang mendapat perhatian.

    Untuk menghindari gangguan tersebut, Rasulullah SAW telah mengajarkan pada seorang sahabat agar dapat menghindari hal-hal yang dapat memicu kemarahan:

    Dari Abu Hurairah RA. “Seseorang berkata kepada Nabi SAW, ‘Berwasiatlah kepadaku’. Beliau bersabda. ‘Jangan marah’ orang itu mengulanginya beberapa kali dan beliau bersabda, ‘Jangan marah’.”

Semoga membantu :)

 

 

 

Referensi:

https://uad.ac.id/id/penyebab-marah-dan-penyelesaiannya-dalam-islam/

https://rsuppersahabatan.co.id/artikel/read/manajemen-marah

http://repository.uin-suska.ac.id/6205/3/BAB%20II.pdf

Comments

Popular Posts