MOTIF-MOTIF SOSIAL (PSIKOLOGI SOSIAL)



MOTIF SOSIAL


Contoh kasus

Apabila seseorang menjadi anggota suatu perkumpulan, maka motif-motifnya biasanya bergabung. Ia mungkin ingin belajar sesuatu yang baru bersama-sama dengan anggota perkumpulan tersebut; disamping itu mungkin ia ingin belajar berorganisasi; mungkin juga ia ingin mengenal dari dekat anggota-anggota kelompok; ia juga mungkin ingin memperluas relasi-relasinya guna kelancaran pekerjaan kantornya, dll.
Dengan demikian, orang yang bersangkutan mungkin mempunyai bermacam-macam motif yang sekaligus bekerja di balik perbuatan menggabungkan diri dallam organisassi itu. Untuk memahami susunan motif yang mendorong seseorang manusia dewasa berbuat sesuatu yang tidak kita mengerti seringkali tidak mudah. Dalam hal ini patutlah dipahami lebih mendalam riwayat dan struktur kepribadiannya, perbuatan itu sendiri, dan kondisi-kondisi di lingkungannya dimana perbuatan itu dilakukan.

Untuk memahami contoh di atas dapat dikaitkan dengan beberapa penjelasan tentang motif-motif sosial di bawah ini :

Motif

1.  Pengertian Motif

Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon dengan keadaan dorongan tertentu. Motif yang ada pada diri seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan.13 Ada beberapa definisi tentang motif:
Sherif & Sherif (1956) : motif sebagai suatu istilah generic yang meliputi semua faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis perilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan keinginan, aspirasi, dan selera social, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut.
Giddens (1991:64) : motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energy pada tindakan manusia sepenjang lintasan kognitif/perilaku kearah pemuasan kebutuhan. Menurut Giddens, motif tak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan suatu keadaan perasaan.
Harold Koontz dan kawan-kawan (1980:632) : dalam buku Management, mengutip pendapat Berelson dan steiner, mengemukakan bahwa motif adalah suatu keadaan dari dalam yang member kekuatan, yang menggiatkan, yang menggerakkan atau menyalurkan perilaku ke arah tujuan-tujuan.

Dari berbagai macam pendapat dari para ahli di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa motif adalah kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Motif juga merupakan suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu, melakukan tindakan, atau bersikap tertentu.motif merupakan suatu pengertian yang mencukupi semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada hakikatnya mempunyai motif. Tingkah laku juga disebut tingkah laku secara refleks dan berlangsung secara otomatis dan mempunyai maksud-maksud tertentu walaupun maksud itu tidak senantiasa sadar bagi manusia.

B. Motif Sosial

Motif social telah didefinisikan oleh para ahli, berikut ini adalah motif social yang telah didefinisikan:
Lindgren (1073) :Motif sosial adalah motif yang dipelajari melalui kontak orang lain dan bahwa lingkungan individu memegang peranan yang penting.
Max Crimon dan Messick (1976) :Mengatakan bahwa seseorang menunjukan motif sosial, jika ia dalam membuat pilihan memperhitungkan akibatnya bagi orang lain.

 Heckhausen (1980) :Motif sosial adalah motif yang menunjukan bahwa tujuan yang ingin dicapai mempunyai interaksi dengan orang lain.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa definisi motif sosial adalah motif yang timbul untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.

Motif timbul karena adanya kebutuhan/need.
Teevan dan Smith (1964) menggolongkan motif atau dasar perkembangannya menjadi dua kelompok yaitu:

1. Motif primer kebutuhan motive (need) perilaku adalah motif yang timbulnya berdasarkan proses kimiawi fisiologik dan diperoleh dengan tidak dipelajari. Contohnya: haus dan lapar.

2. Motif sekunder adalah motif yang timbulnya tidak secara langsung berdasarkan proses kimiawi psikologik dan umumnya diperoleh dari proses belajar baik melalui pengalaman maupun lingkungan.

menurut M. Sherif & C. W. Sherif berdasarkan asalnya ada dua jenis motif:

1. Motif Biogenetis
Motif biogenetis merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kelanjutan kehidupannya secara biologis. Motif biogenetis ini bercorak universal dan kurang terikat dengan lingkungan kebudayaannya tempat manusia itu kebetulan berada dan berkembang. Motif biogenetis ini adalah asli di dalam diri orang dan berkembang dengan sendirinya

2. Motif Sosiogenetis
Motif sosiogenetis adalah motif-motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif sosiogenetis tidak berkembang dengan sendirinya tetapi berdasarkan interaksi sosial dengan orang-orang atau hasil kebudayaan orang. Macam motif sosiogenetis banyak sekali dan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai corak kebudayaan di dunia.
Dari dua macam jenis motif di atas, dalam bukunya Alex Sobur menjelaskan bahwa motif dibagi menjadi tiga yaitu Motif Biognetis, Motif Sosiognetis, dan Motif Teognetis.

3. Motif Teogenetis
Motif teogenetis adalah motif-motif yang berasal dari interaksi antara manusia dengan tuhan seperti yang terwujud dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasikan norma-norma agamanya. Sementara itu, manusia memerlukan interaksi dengan tuhannya untuk dapat menyadari akan tugasnya sebagai manusia yang berketuhanan di dalam masyarakat yang heterogen.

2. Teori-teori Tentang Motivasi

Menurut Husdarta (2011: 35), ada beberapa macam teori tentang motivasi diantaranya:

a. Teori Hedonisme
Teori hedonisme adalah teori yang beranjak dari pandangan klasik bahwa pada hakikatnya manusia akan memilih aktivitas yang menyebabkan merasa gembira dan senang. Begitu pula halnya dalam memilih aktivitas olah raga.

b. Teori Naluri
Teori naluri adalah teori yang menghubungkan perilaku manusia dengan berbagai naluri. Misalnya naluri untuk mempertahankan diri, mengembangkan diri, dll. Semua aktivitas dan perilakunya digerakkan oleh naluri tersebut.

c. Teori Kebudayaan
Teori kebudayaan adalah teori yang menghubungkan tingkah laku manusia beradasarkan pada kebudayaan tempat seseorang tersebut berada.

d. Teori Kebutuhan
Teori kebutuhan adalah teori yang menggagas bahwa tingkah laku manusia pada hakikatnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan.

3.  Sifat Motivasi
Menurut Elida Prayitno (1989: 10), ada dua tipe motivasi yaitu motivasi Instrinsik dan motivasi ekstrinsik.

a. Motivasi Instrinsik
Menurtut Thornburgh dalam Elida Prayitno (1989: 10-11), motivasi instrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri (internal) individu. Menurut Sardiman A M (2006: 89), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut E. Mulyasa (2002: 120), motovasi instrinsik adalah motivasi yang datang dari dalam diri seseorang.

b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang keberadaannya karena pengaruh rangsangan dari luar (Pintner, dkk, 1963 dalam Elida Prayitno, 1989: 13). Menurut E. Mulyasa (2002: 120), motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari lingkungan di luar diri seseorang. Faktor lingkungan dapat pula berperan sebagai bagian yang mempengaruhi motivasi seseorang. Menurut Sardiman A.M. (2001: 88), motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.

 4. Motif sosial menurut McClelland

Menurut McClelland manusia berinteraksi dengan dunia sosialnya dalam tiga bentuk motif yaitu:

1) Motif berprestasi dimana ciri-ciri dari tipe orang dengan motif sosial seperti ini adalah:
 Mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik (beranggapan bahwa berprestasi lebih baik adalah suatu hal yang penting).
 Menentukan sendiri standard prestasinya dan berpatokan pada standard tersebut.
 Berusaha melakukan sesuatu dengan cara yang baru dan kreatif.
 Mengambil resiko-resiko yang wajar.
 Berpikiran maju ke depan (inovatif).

2) Motif afiliasi, dimana ciri-ciri orang dengan tipe seperti ini adalah:
 Senang berada di tengah keramaian dan sangat menikmati persahabatan.
 Senang bergaul dengan orang lain, senang berbicara di telepon.
 Lebih mementingkan aspek-aspek interpersonal dari pekerjaannya daripada aspek-aspek yang menyangkut tugas dalam pekerjaannya.
 Berusaha mendapatkan persetujuan orang lain.
 Melakukan tugas lebih baik saat bekerja dalam team.
 Selalu memiliki keinginan untuk mengadakan, memperbaiki atau memilihara hubungan yang erat, hangat dan bersahabat dengan orang lain.

3) Motif berkuasa, orang dengan tipe seperti ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 Selalu ingin memiliki pengaruh terhadap orang lain.
 Aktif dalam menjalankan kebijakan suatu organisasi yang diikuti.
 Peka terhadap struktur pengaruh interpersonal dari suatu kelompok atau organisasi.
 Selalu risau dengan reputasi, prestasi atau kedudukan orang lain.
 Selalu berusaha membuat orang lain terkesan.

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motif-Motif Sosial

Teevan dan Smith mengemukakan ada empat sumber perkembangan motif sosial, yaitu:
1. Interaksi ibu dan anak
2. Interaksi anak dengan seluruh keluarga
3. Interaksi anak dengan masyarakat luas
4. pendidikan formal

Berbeda dengan La Vine (1977) ia mengatakan kebudayaan dalam masyarakat yang berupa kebiasaan-kebiasaan akan mempengaruhi motif sosial. Sedangkan Murray (1964) mengatakan bahwa motif sosial sangat dipengaruhi oleh cara-cara mengasuh anak. Jadi, bila disimpulkan berdasarkan pendapat banyak ahli, faktor-faktor yang mempengaruhi motif sosial meliputi cara-cara mengasuh anak (yang meliputi interaksi antara ibu dengan anak, anak dengan keluarga, anak dengan masyarakat luas, dan pendidikan formal) danlingkungan kebudayaan.

6. Peran Motif Sosial
 Motif sosial berperan penting dalam pembentukan sosial. Motif yang sama antara anggota kelompok merupakan ciri utama yang membedakan interaksi sosial satu denga interaksi sosial yang lainnya. Terbentuknya kelompok sosial adalah karena bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan kegiatan bersama lebih mudah dapat dicapai daripada atas usaha diri sendiri. Jadi, dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebab utama terbentuknya kelompok sosial itu. Tanpa motif yang sama antara sejumlah individu itu sukar dapat dibayangkan bahwa akan terbentuk suatu kelompok sosial yang khas.

7. Beberapa Cara Memotivasi Orang Lain
Menurut Sartain, North, Strange, Chapman (1973, hal. 324-326) beberapa cara untuk
memotivasi orang lain adalah sebagai berikut:


a. Memotivasi dengan kekerasan/motivating by force.
Cara ini biasa terjadi contohnya dalam Angkatan bersenjata dimana seorang pemimpin akan mengancam para serdadu dengan suatu hukuman, jika mereka tidak atau kurang disiplin. Seperti itulah cara yang digunakan, namun biasanya menimbulkan perasaan tidak senang bagi subjek yang terkena. Di dalam masyarakat yang demokratis cara semacam ini kurang begitu tepat, sebab orang akan memiliki sifat ketergantungan yang besar, dan kurang mampu membutuhkan kesadaran.

b. Memotivasi dengan bujukan/motivating by enticement.
Cara yang kedua adalah dengan cara memberikan bujukan atau hadiah, bila orang lain itu mengerjakan sesuatu.bujukan atau hadiah itu dapat berupa:
 Untuk buruh atau pekerja akan diberikan tambahan upah.
 Untuk para pelajar akan memberian nilai yang baik.
 Dapat juga berupa status.
Cara ini mungkin akan berhasil. Seperti halnya dengan cara yang pertama maka cara yang kedua ini juga menimbulkan sifat ketergantungan. Para buruh tergantung pada majikan, murid pada gurunya.

c. Memotivasi dengan identifikasi/motivating by identivication/ Ego  Involvement.
Ini merupakan cara yang terbaik untuk memotivasi orang lain.. Dalam hal ini mereka berbuat sesuatu dengan suatu rasa percaya diri sendiri bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk mencapat tujuan tertentu, ada keinginan dari dalam. Contohnya seorang murid belajar bukan karena bujukan guru, tetapi murid belajar karena memang mereka ingin memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.





Daftar Referensi :

Ginintasasi, Rahayu. 2012. MOTIF SOSIAL. Universitas Pendidikan Indonesia EDU. Diambil dari file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR. (14 maret 2018)

Ahmad, M. 2012. Deskripsi Motif dan Motif Sosial. UNY epints. Diambil dari epints.uny.ac.id. (15 Maret 2018)

Huda, MK. 2014. kajian Teori (Motif Sosial). UIN surabaya digilib. Diambil dari digilib.uinsby.ac.id. (15 Maret 2018)

Comments

Popular Posts