PERMAINAN TRADISIONAL DI ERA MILENIAL : BUAT APA?

Kitogalo.com


‘Memaksimalkan Potensi Anak dengan Permainan Tradisional’
Speaker : Dr. Iswinarti, M. Si., Psikolog
Writer : Yazid Hajrian Dinata

“Bermain sejenak anakku, agar hatimu tidak mati. Ingat nak, jangan berlebihan hingga membuatmu lalai”

            Bismillah, apa yang ada di benakmu saat mendengar kata bermain? Senang? Kotor? Ramai? Atau hal yang lain? Di balik itu semua ternyata bermain memiliki segudang manfaat, terutama bagi  usia anak-anak, PERMAINAN TRADISIONAL, YAP! Dalam Islam pun membolehkan anak-anak bermain loh, contohnya saat Aisyah kecil bermain boneka, Rasulullah tidak melarang, Umar bin Khotob juga bermain kuda-kudaan dengan anak-anaknya. Bermain identik dengan kegiatan menyenangkan, memiliki unsur tertawa,motivasi dan unsur kepura-puraan.

            Singkatnya, dalam perkembangannya bermain merupakan miniatur anak sebagai fasilitas untuk belajar memecahkan masalah, fisik motorik, kognitif, sosioemosi, moral, kreativitas an bahasa. Dewasa ini kita mengenal dua bentuk permainan, tradisional dan non tradisional, kalau kita tilik lebih lanjut sekarang ini anak-anak malah lebih tergandrungi oleh permainan-permainan online, iya apa iya?

            Perbedaan paling mencolok dari dua jenis permainan ini terdapat pada nilai yang ada di dalamnya, apa saja nilai-nilai itu?
  1. Bukan produk industrialisasi >< Produk industrialisasi
  2.  Nilai-nilai sosial tinggi >< Individual
  3.  Kontak fisik secara langsung >< Kontak dengan’mesin’
  4. Research : Permainan tradisional (ex : engklek) kehilangan nilai edukasi ketika dijadikan permainan digital.

Walaupun memang kita akui permainan digital dan gawainya juga memiliki hal positif, di antaranya membuat anak tidak gaptek dan kaya ilmu pengetahuan, itu pun harus dengan pendampingan dari orang terdekat. Lalu bagaimana dengan manfaat permainan tradisional? Permainan tradisional mengandung nilai-nilai yang dapat menstimulus berbagai aspek perkembangan anak : fisik dan motorik, kognitif, sosioemosional, kepribadian, self-esteem, self-control, dll.

Nah.. setelah mengetahui berbagai pengetahuan di atas, pasti akan timbul pertanyaan, lalu bagaimana sih cara penerapan untuk membangun karakter anak melalui permainan tradisional ini? Dr. Iswinarti menyampaikan kepada guru dan orang tua, serta calon orang tua seperti kita *uhuk! Untuk memakai metode yang disebut BERLIAN (bermain experiental learning anak), kelebihan dari metode ini adalah menyenangkan, tidak merasa sedang diberi pelajaran, bermain sebagai media belajar dan menjadi miniatur anak yang kemudian akan ditransfer pada kehidupan yang lebih besar.

Langkah dalam menerapkan metode BERLIAN :
1.      Menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional
2.      Mengajari aturan main dari permainan tradisional
3.      Simulasi cara bermain
4.      Melakukan evaluasi terhadap cara bermainnya
5.      Melakukan permainan dan refleksi terhadap pengalaman anak saat bermain

    Dengan begitu, refleksi yang diharapkan adalah anak dapat memperoleh pemahaman tentang pembelajaran yang secara tidak langsung diberikan, menggali emosi positif dan mengajak anak untuk mentransfer pengalaman bermain ke dalam kehidupan yang lebih riil.

“Tell me, and I will forget. Show me, and I may remember. Involve me, and I will understand (Confucius : 450 SM)”

Comments

Popular Posts